Gunung, puncak segala kekuasaan..itulah yang selalu ada dibenakku. Ya, hobi mendaki yang telah tumbuh sejak awal Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu makin menggila saat aku memasuki ruang kelas Sekolah Menengah Atas (SMA)..Dan, aku sangat beruntung karena di sekolah baruku itu ada ekskul Pecinta Alam (PA), sehingga akupun tanpa pikir panjang mendaftar di ekskul tersebut.
Awal maret 2004, pendakian pertamaku di Gunung Lawu (3625 mdpl), gunung yang menjadi salah satu gunung favorit para pendaki (terutama pendaki pemula) di kawasan madiun dan sekitarnya.... Aku dan ke-6 temanku berangkat menjelang senja, dan perjalanan yang mugkin bisa dibilang berani (bodoh lebih tepatnya) karena hanya berbekal sangat seadanya (aku hanya membawa 1 botol aqua 1,5 lt, jaket parasit, 3 bungkus ****mie goreng, dan selembar sarung plus pakaian yang melekat di badan) hehehe...
Pukul 4 sore aku dan rekan2 gilaku sampai di terminal, setelah tawar-menawar dengan beberapa supir angkot, akhirnya kamipun berangkat menuju Cemoro Sewu tempat awal pendakian sebenarnya ada jalur lain yang lebih landai, yaitu Cemoro Kandang, di lain kesempatan akan saya ceritakan kenapa kami lebih memilih Cemoro Sewu. Setelah menyelesaikan kewajiban kami kepada bapak sopir yang baik hati (hanya menarik 2rb per org hehehe..), kami langsung menyelesaikan urusan administrasi di gudang (ruangannya lebih mirip gudang daripada kantor administrasi) hehehe....
Mentari mulai menghilang saat kami mengisi perut kami dengan bekal yang kami bawa (3 bungkus ****mie untuk 6 orang). Dan, pendakian pun dimulai dengan 3 senter mungil sebagai penerang. Beruntung pada saat kami mendaki purnama dengan ramah menemani perjalanan kami. Lewat dari pos 1, medan terjal berbatu mulai manghampiri, kami pun harus ekstra hati2 melewati medan itu dengan peralatan yang seadanya... (sedikit didramatisir lah...hehehehe..), setelah berhasil melewati medan batuan sampai ke pos 2, kami diterima dengan ramah oleh hamparan jurang dan rindangnya pohon2 khas gunung lawu memasuki pos 3. Setelah disuguhi tanjakan (antara 45 - 60 derajat dan dikelilingi jurang2 kecil) di sepanjang menuju pos 4, akhirnya kami mamasuki pos 4 yang terkenal dengan aroma belerangnya yang khas...di pos 4 ini kami tidak terlalu sulit untuk mengunjungi pos 5 yang "hanya" berjarak beberapa tanjakan dan belokan yang hanya mengarah ke kanan dan ke kiri..Lewat di pos 5, purnama seolah-olah mengajak kami berbincang dan menggiring kami untuk tak melewatkan indahnya lampu kota bila dinikmati ditengah belaian badai gunung yang membuat kami tak bisa berlama-lama di SENDANG DRAJAT untuk mengisi perbekalan air kami...
Keesokan paginya (jam di hanphone menunjukkan angka 4.30 Waktu Argo Dalem) setelah meneguk segelas kopi hangat (sebenarnya sangat panas, tapi karena suhu menunjukkan mendekati 3 derajat celcius, lidah kami kehilangan sensifitas panasnya) kami mulai merengsek naik ke puncak..sambil melilitkan potongan salonpas di hidung kami..Puncak!!!!awan pagi seolah dibawah kaki2 perkasa kami(muncak tanpa alas kaki coy!!!gila ga tuh???) dan kami laksana mahapatih Gajahmada saat mengantar keberangkatan Laksamana Nala mengarungi lautan bumi nusantara.......
Awal maret 2004, pendakian pertamaku di Gunung Lawu (3625 mdpl), gunung yang menjadi salah satu gunung favorit para pendaki (terutama pendaki pemula) di kawasan madiun dan sekitarnya.... Aku dan ke-6 temanku berangkat menjelang senja, dan perjalanan yang mugkin bisa dibilang berani (bodoh lebih tepatnya) karena hanya berbekal sangat seadanya (aku hanya membawa 1 botol aqua 1,5 lt, jaket parasit, 3 bungkus ****mie goreng, dan selembar sarung plus pakaian yang melekat di badan) hehehe...
Pukul 4 sore aku dan rekan2 gilaku sampai di terminal, setelah tawar-menawar dengan beberapa supir angkot, akhirnya kamipun berangkat menuju Cemoro Sewu tempat awal pendakian sebenarnya ada jalur lain yang lebih landai, yaitu Cemoro Kandang, di lain kesempatan akan saya ceritakan kenapa kami lebih memilih Cemoro Sewu. Setelah menyelesaikan kewajiban kami kepada bapak sopir yang baik hati (hanya menarik 2rb per org hehehe..), kami langsung menyelesaikan urusan administrasi di gudang (ruangannya lebih mirip gudang daripada kantor administrasi) hehehe....
Mentari mulai menghilang saat kami mengisi perut kami dengan bekal yang kami bawa (3 bungkus ****mie untuk 6 orang). Dan, pendakian pun dimulai dengan 3 senter mungil sebagai penerang. Beruntung pada saat kami mendaki purnama dengan ramah menemani perjalanan kami. Lewat dari pos 1, medan terjal berbatu mulai manghampiri, kami pun harus ekstra hati2 melewati medan itu dengan peralatan yang seadanya... (sedikit didramatisir lah...hehehehe..), setelah berhasil melewati medan batuan sampai ke pos 2, kami diterima dengan ramah oleh hamparan jurang dan rindangnya pohon2 khas gunung lawu memasuki pos 3. Setelah disuguhi tanjakan (antara 45 - 60 derajat dan dikelilingi jurang2 kecil) di sepanjang menuju pos 4, akhirnya kami mamasuki pos 4 yang terkenal dengan aroma belerangnya yang khas...di pos 4 ini kami tidak terlalu sulit untuk mengunjungi pos 5 yang "hanya" berjarak beberapa tanjakan dan belokan yang hanya mengarah ke kanan dan ke kiri..Lewat di pos 5, purnama seolah-olah mengajak kami berbincang dan menggiring kami untuk tak melewatkan indahnya lampu kota bila dinikmati ditengah belaian badai gunung yang membuat kami tak bisa berlama-lama di SENDANG DRAJAT untuk mengisi perbekalan air kami...
Keesokan paginya (jam di hanphone menunjukkan angka 4.30 Waktu Argo Dalem) setelah meneguk segelas kopi hangat (sebenarnya sangat panas, tapi karena suhu menunjukkan mendekati 3 derajat celcius, lidah kami kehilangan sensifitas panasnya) kami mulai merengsek naik ke puncak..sambil melilitkan potongan salonpas di hidung kami..Puncak!!!!awan pagi seolah dibawah kaki2 perkasa kami(muncak tanpa alas kaki coy!!!gila ga tuh???) dan kami laksana mahapatih Gajahmada saat mengantar keberangkatan Laksamana Nala mengarungi lautan bumi nusantara.......
0 Comments:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)